FRASE DAN KLAUSA

A. Frase 

Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.
Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.

Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua   
sifat, yaitu
a.  Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b.  Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa,
     maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa
     yaitu: S, P, O, atau K.

Macam-macam frase:
A.  Frase endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:

1.  Frase endosentrik yang koordinatif, 
    yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya:      
kakek-nenek             pembinaan dan pengembangan
laki bini                    belajar atau bekerja

2.  Frase endosentrik  yang atributif, 
     yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.
Misalnya:  
        perjalanan panjang
        hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.

3. Frase endosentrik yang apositif, 
    yaitu frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.
Misalnya:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.
Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, …., sangat pandai.…., anak Pak Saleh sangat pandai.
              Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak
               Pak Saleh merupakan aposisi    
               (Ap).

B.  Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang    
sama dengan unsurnya.
Misalnya:
         Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di kelas.
Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan    
unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
                        Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
                        Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. Kelas
                  
                       Amin sedang makan dengan sendok
               Frase dengan sendok tidak mempunyai distribusi yang sama dengan
               unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
              Amin sedang makan dengan .....
                   Amin sedang makan ...... sendok

C.      Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
1.  Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan
    kata nominal.
              Misalnya: baju baru, rumah sakit
2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan
    golongan kata verbal.
                Misalnya: akan berlayar
3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan  
     kata bilangan.
     Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4.     Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama
     dengan kata keterangan.
      Misalnya: tadi pagi, besok sore
5.  Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinnya.
      Misalnya: di halaman sekolah, dari desa

D. Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.

Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.
Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:
1.  Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2. Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.


B.  Klausa
Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.
Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).
Penggolongan klausa:
1.  Berdasarkan unsur intinya
2. Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik   
    menegatifkan predikat
3. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat

10.10 | Posted in | Read More »

PIDATO

Pidato adalah pengungkapan pikiran (pendapat atau gagasan) dengan kata-kata yang ditujukan kepada sekelompok orang tertentu dalam situasi dan kondisi tertentu pula.

ADAPUN MACAM TUJUAN PIDATO, Diantaranya yaitu :
1.  Persuasif yaitu pidato yang bertujuan untuk mempengaruhi dan 
     mengajak audiensnya agar mengikuti apa yang dikehendaki oleh   sang 
     orator.
2 . Deskriptif yaitu pidato yang bertujuan menggambarkan sesuatu hal sehingga 
    audien seolah-olah mengalami sendiri apa yang disampaikan oleh orator.
3. Informatif yaitu pidato yang bertujuan untuk bemberikan informasi.
4.
Naratif yaitu pidato yang bertujuan untuk menceritakan suatu hal.
5.  
Agitatif yaitu pidato yang bertujuan untuk menggerakan masa contoh
     demo.



MACAM-MACAM METODE PIDATO :
A. Metode naskah yang artinya sang orator membacakan teks pada  
     waktu berpidato.
B.
Metode ekstemporan dalam melaksanakan pidato sang orator hanya     
     membawa secarik  kertas yang berisi garis besarnya saja.
C. Metode impromtu sang orator dalam melaksakan pidato tanpa   
     persiapan terlebih dulu.
D.
Metode hafalan sang orator sebelum melaksanakan pidato  
     menghafalkan naskahnya sebelum sang orator berpidato.


Dalam penyusunan naskah pidato Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
~ Menentukam pokok masalah.
~ Mengumpulkan bahan orasi dan narasumber, media cetak, media
   elektronik.
~ Menyusun kerangka karangan sebagai titik tumpu teks pidato.


Dalam berpidato, sang orator (orang yang berpidato) harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Dalam rangka apakah pidato disusun dan dilaksanakan ?
2. Gagasan dan topik apakah yang hendak disampaikan?
3. Siapakah yang mendengarkan pidato?
4. Penggunaan bahasa yang sesuai dengan pendengarnya.
5. Tata-tata urutan pidato, yaitu sebagai berikut :
    a. Salam pembuka.
    b. Pembukaan, berisi ucapan puji syukur terhadap TUHAN YME.
    c. Isi pidato, berupa uraian gagasan.
    d. Penutup berupa simpulan,ucapan terima kasih dan salam.


Beberapa petunjuk untuk memulai pidato:
1. Mulailah setenang mungkin.
2. Berpikirlah sesuatu yang positif untuk melenyapkan rasa takut.
3. Jangan memulai pidato dengan membaca dan terikat pada teks     
    tetapi  bicaralah bebas.
4. Jangan mulai dengan meminta maaf.
5. Berusahalah untuk menarik perhatian pendengar dan menciptakan  
    kontak dengan mereka.
6. Bernafaslah sedalam-dalamnya sebelum mulai bicara.
7. Mulailah berbicara jika seluruh ruangan sudah tenang.




Contoh Teks Pidato

ASSALAMUALAIKUM Wr.Wb
Bapak Guru yang saya hormati,serta teman-teman kelas III SMA Tunas Bangsa yang berbahagia.

Selamat siang dan salam sejahtera.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,atas karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam suasana yang berbahagia ini.

Pada kesempatan ini saya akan mengangkat permasalahan yang melanda negara kita Indonesia.Negara pada masa ini sedang menghadapi persoalan tentang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di negara-negara lain,terutama di negara Malaysia.Terlepas dari salah dan tidaknya tenaga kerja Indonesia,kita sebagai bangsa Indonesia memang sebaiknya mengadakan pembelaan terhadap mereka.Mereka pergi jauh kenegeri orang bukan untuk berlibur atau untuk bersenag-senag melainkan mengadu nasib, demi mengidupi keluarga. Selama ini perlakuan yang mereka terima kadang-kadang tidak manusiawi. Banyak diantara mereka yang diperlakukan dengan sewenang-wenang.Akan tetapi, tidak semua TKI bernasib malang. Memang ada juga TKI yang diperlaukukan secara baik sehingga mampu mengangkat kwalitas hidup keluarga TKI tersebut.

Bapak Guru yang terhormat dan teman-teman yang berbahagia.
Ketika melihat TKI yang diperlakukan tidak manusiawi dalam televisi, hati kita pasti menangis. Bagaimanapun mereka adalah saudara-saudara kita. Perlaukuan kasar yang mereka terima secara tidak langsung merupakan perlakuan terhadap kita sebagai bangsa indonesia. Seranya kita meminta kepada negara lain untuk memperlakukan warga bangsa kita secara menusiawi. tentunya kita juga harus mau melakukan hal yang sama dinegara kita.perlakuan yang sewenang-wenang terhadap TKI tidak mengenaskan terjadi didalam negeri ibaratnya TKI dijadiakan sapi perahan, baik ketika mereka hendak mulai pekerjaan dinegeri orang maupun ketika mereka kembali. Entah karna sudah selesai kontraknya entah ketika hendak pulang sementara waktu. Tindakan tersebut bukan hanya dilakukan secara berdiam-diam.Bahkan, media masa secar terus menerus melaporkan berbagai penyimpangan itu tidak juga menggugah kita untuk segera bertindak. Kita tetap saja membiarkan tindakan tercela itu secara berlangsung.

Bapak guru yang terhormat dan teman-teman yang berbahagia. Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyakny TKI ilegal yang masuk kesalah satu negara tetangga kita. Jumlah TKI ilegal tersebut mencapai. 400.000 orang. Ada suatu pertanyaan bagaimana bisa ratusan TKI tersebut menjadi ilegal? Berarti ada sebuah sistem yang salah dalam pengarahan TKI yang kita laukukan. Kita seharusnya memanfaatkan keadaan Presiden Susilo Bambang Yudoyono sebagai momentum untukmemperbaiki berbagai kekisruhan dalam pengelolaan TKI. Inilah kesempatan emas untuk mengakhiri agar jangan ada lagi perlakuan sewenang-wenag terhadap warga bangsa kita yang bekerja dinegeri orang yang sebenarnya mereka berjuang untuk menyumbangkan kehidupan bagi keluarganya serta devisa bagi negaranya.Kita menyadari untuk menangani masalah tersebut diperlukan sebuah pemikiran yang besar. Sebuah konsep penanganan TKI yang jelas dan menyeluruh akan kita jadiakan apa sebenarnya kelebihan SDM yang kita miliki itu. Apakah kita bertahan dengan pola yang telah berjalan sekarang, yaitu mengandalkan kepada penyediaan tenaga kasar atau ingin mengub ahnya menjadi tenaga terampil? Yang tidak kalh penting adalah bagaimana membuat kebijakan itu bisa berjalan dengan benar. Dalam hal ini tidak lagi hanya dituntut soal monitoring dan evaluasi, tetapi kesungguahan, termasuk membangun organisasi yang benar-benar bisa melaksanakan semua pemikiran besar tesebut Oleh karene itu pemerintah perlu lebih serius menangani para tenaga kerja indonesia. Sangat mungkin pemerintah bersama swasata membuat kebijaksanaan baru ketenagakerjaan diindonesia Bapak guru yang terhormat dan teman-teman yang berbahagia, sekian penjelasan saya, terima kasih
Billahitaufik Walhidayah
WASSALAMU’ALAIKUM Wr.Wb


REFERENSI
Yuli,Eti Nunung dkk.2006.Pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia.Klaten:Intan pariwara


http://babeheko.blogspot.com/2010/08/pidato.html

10.02 | Posted in | Read More »

MENULIS PUISI


 MENULIS PUISI DENGAN BAIK

Kata kawanku, puisi itu adalah perwakilan isi hati seseorang. Cara penyampaiannya mesti indah dan selalu menggunakan kata-kata yang terpilih. Hahaha… menurut Anda bagaimana?
Nah, menulis puisi dengan baik itu sebenarnya sangat mudah dan susah. Lho kok? Tapi, benarkan, begitu? Ada beberapa orang mengatakan bahwa “bila saya menulis puisi, saya pasti sedang merasakan sesuatu yang gundah.” Atau ada juga yang bilang, “ aku menulis kegelisahan dalam kesunyian. Jadi, harus ada tempat yang benar-benar sunyi untuk menulis puisi?”
Ada juga yang mengatakan,”puisi itu mudah sekali untuk dibikin. Jadi, konteks dan tempatnya bisa di mana saja asal ada sesuatu yang kita pikirkan untuk kita menulisnya.”
nah, bagaimana dengan Anda?
Perihal yang di atas itu, hanya bagian kecil pandangan orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan menulis puisi dengan baik. Puisi dapat ditulis berdasarkan apa yang kita lewati dan bisa juga kita tuangkan melalui catatan harian.
ketika Anda sedang merasakan sesuatu hal yang hal itu bisa membuat Anda terkekang atau mungkin Anda berpikir untuk melawan suatu masa yang menurut Anda sedang tidak kondusif. Biasanya, banyak penulis yang memilih puisi sebagai salah satu media perlawanan. Lihat saja beberapa puisi kritik yang dituliskan oleh WS Rendra Cs. Mereka mencoba melawan pemerintah dengan mengangkat unsure-unsur social budaya.
Ada yang berkiblat ke permasalahan percintaan barangkali. Juga demikian. Puisi itu bisa bertemakan apa saja. Nah berikut saya mencoba membagi dua hal yang perlu di perhatikan dalam menulis puisi;

RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Puisi-puisi yang bergaya rima kental biasanya adalah puisi-puisi melayu dan beberapa puisi angkatan dibwah penulis kontemporer. Mereka menulis puisi-puisi seperti bentuk pantun modern. Artinya ada beberapa bunyi yang sama pada setiap pengulangan bunyi yang berselang.






IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan yang teratur suatu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggirendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Nah, di sini dulu perjumpaan kita. Semoga menarik dan bisa menjadi bahan diskusi untuk pengembangan tulisan-tulisan kita selanjutnya…
Mari menulis puisi. Mari melawan hati yang gundah.
Catatan kecil dari saya; bacalah puisi-puisi orang lain agar kuat pada pendiksian. Puisi-puisi penulis Amerika Latin atau puisi-puisi dar Afrika mungkin bisa menjadi rujukan Anda. Nah, untuk menguatkan Anda menentukan tema yang akan diangkat menjadi puisi. Baiknya Anda baca buku-buku filsafat.
Oke….
Selamat mencobanya…

Sumber :
http://aamovi.wordpress.com/2010/01/11/menulis-puisi-dengan-baik/

10.01 | Posted in | Read More »

KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK

Kalimat
a.    Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
            Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.

  b.  Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
                 Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial


Jenis Kalimat

1.   Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.

Kalimat Tunggal
Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
S-P
S-P-O
S-P-O-K


2.   Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a.   Sebuah  kalimat  tunggal   yang  bagian-bagiannya  diperluas     sedemikian    rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya:  Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
        Misalnya :  Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
         Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
                     Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a.  Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan,   serta, lagipula, dan sebagainya.
      Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b.   Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
                   Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c.   Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
                   Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.

2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
       Misalnya :   Diakuinya  hal itu
                                         P             S
                             Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
                                            anak kalimat pengganti subjek
           b.  Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
       Misalnya :  Katanya begitu
                            Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
                                                anak kalimat pengganti predikat
           c.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
       Misalnya  :   Mereka sudah mengetahui hal itu.
                                  S             P                             O
                              Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
                                                                                  anak kalimat pengganti objek
          d.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
       Misalnya  :   Ayah pulang malam hari
                                     S        P             K
                              Ayah pulang ketika kami makan malam
                                                     anak kalimat pengganti keterangan

3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
                        Ketika ia duduk minum-minum
                                                                 pola atasan
                                                  datang seorang pemuda berpakaian bagus
                                                                        pola bawahan I
                                                  datang menggunakan kendaraan roda empat
                                                                       pola bawahan II

                                                                                 

3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a.    Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus   
menjadi  inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1)       Hanya terdiri atas dua kata
2)       Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3)       Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4)       Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh   
          menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b.   Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.

c.   Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat  Inti, Luas, dan Transformasi
a.       Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b.       Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar  
          dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c.        Kalimat transformasi. Contoh:

i)        Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus 
          juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii)       Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik  
          menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii)      Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv)      Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?


4. Kalimat Mayor dan Minor
a.    Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh :    Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
             Kiki pergi ke Bandung.
             Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu  
             kami  di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah. 

b.   Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. 
    Contoh:     Diam!
 Sudah siap?
 Pergi!
              Yang baru!
              Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
              Contoh:
              Amir mengambil.
 Arif ada.
 Kiki pergi
 Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.


5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas      : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat  : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat      : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.

Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat

 1.   kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
contoh :

  • diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
  •  memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
  • sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
  • saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
  • Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan  pentas seni (salah)

2.   pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :

  • para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
  • para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
  • banyak siswa-siswa (banyak siswa)
  • saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
  • agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
  • disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)


3.    tidak memiliki subjek
contoh:

  • Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
  • Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
  • Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)


4.   adanya kata depan yang tidak perlu

  • Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
  • Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
  • Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5.   salah nalar

  • waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
  • Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
  • Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
  • Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
  • Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
  • Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
  • Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)      

            6.   kesalahan pembentukan  kata 
  • mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
  • menyetop seharusnya menstop
  • mensoal seharusnya menyoal
  • ilmiawan seharusnya ilmuwan
  • sejarawan seharusnya ahli sejarah


7.    pengaruh bahasa asing

  • Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
  • Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
  • Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)

  
8.   pengaruh bahasa daerah 

  • … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
  • … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
  • Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

.
     Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1.   Konjungsi antarklausa
a.  Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b.  Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2.    Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3.    Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.
 
http://babeheko.blogspot.com/2010/08/kalimat-tunggal-dan-kalimat-majemuk.html

09.55 | Posted in | Read More »

PARAGRAF NARASI

 
I. PENGERTIAN NARASI
Narasi adalah suatu peristiwa atau kejadian yang menimpa seseorang berdasarkan urutan-urutan waktu dan tempat yang jelas dan cerita tersebut dituangkan dalam paragraf.

II. CIRI-CIRI NARASI
Ciri-ciri narasi sebagai berikut :
a. Berisi kejadian atau rangkaian peristiwa yang menunjukan jalinan cerita,
b. Ada unsur pelaku,
c. Ada unsur waktu, dan
d. Ada unsur suasana.

Ciri-ciri narasi yang dikembangkan dengan cara mula-akhir adalah :
a. Kejadian terdapat didalamnya membentuk peristiwa yang runtut ;
b. Kejadian atau peristiwa didalamnya tidak meloncat-loncat melainkan disusun secara
    runtut dari waktu kewaktu; misalnya dari senin, selasa, rabu, dan seterusnya;
c. Menerapkan alur maju atau kronologis.
III. HAL-HAL YANG HARUS ADA PADA NARASI
Hal-hal yang harus ada pada narasi :
Sebuah paragraph narasi harus meiliki satu gagasan pokok yang didukung oleh gagasan-gagasan pendukung yang diwujudkan dalam kalimat-kalimat pendukung. Kalimat-kalimat tersebut berisikan rangkaian pembuatan yang diurutkan sesuai dengan urutan waktu dan tempat berlangsungnya.


Paragraf Narasi dibedakan atas dua jenis yaitu :
• Paragraf narasi Ekspositoris
Paragraf narasi ekspositoris adalah paragraph yang berisikan rangkaian perbuatan yang disampaiakan secara informatife sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat.

• Paragraf narasi Sugestif
Paragraf narasi sugestif adalah paragraf yang berisi rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga merangsang daya khayal pembaca tentang peristiwa tersebut.

Perhatikan dua contoh berikut !
Contoh paragraf narasi Ekspositoris
Siang itu, sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan Klarinet, meniupnya garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu yang masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “ Mars Jalan “ yang dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin. Ramin, Sait si peniup Klariet, dan Kumat si pemegang trompet piston adalah para pemain kesenian tradisional tanjidor yang telah berkiprah puluhan tahun.Mereka bergabung dalam kelompok Tiga Saudara.

Contoh paragraf narasi Sugestif
Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ketanah. Patih pranggulang memungut pedang dan membacokan lagi ketubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal. Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hati bahwa Tunjungsekar tidak bersalah. Lalu dia segera membuat rakit dari kayu-kayu kering dan meminta kepada Tunjungsekar agar menaiki rakit yang akan dihanyutkannya ke tengah laut. Dengan pasrah, Tujungsekar mengikuti saran Patih Pranggulang. Perlahan-lahan rakit itu bergerak meninggalkan pantai, makin lama makin jauh ke tengah laut. Patih Pranggulung memperhatikan rakit yang makin lama makin jauh ke tengah laut dan matanya berkaca-kaca.


Referensi :
Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia SMA kelas x. Jakarta : Yudistira.
Sumaryo, Dkk. 2005. Bahas dan Sastra Indonesia SMA kelas x. Jakarta : PT. 
Grasindo.

http://babeheko.blogspot.com/2010/08/paragraf-narasi.html

09.50 | Posted in | Read More »

DAFTAR PUSTAKA ATAU BIBILIOGRAFI

 Pengertian 
Daftar pustaka adalah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan sebuah karangan / sebagian dari karangan yang tengah digarap. (Keraf, 1989 ; 213)

Fungsi 
Fungsi daftar pustaka adalah sebagai pertanggung jawaban ilmiah terhadap gagasan-gagasan orang lain yang telah digunakan oleh seseorang dalam menjelaskan atau memperkuat gagasannya di dalam sebuah karangan ilmiah.

Tanda baca yang digunakan
1. Tanda koma (,) untuk menandai nama yang dibalik
2. Tanda titik (.), digunakan diantara nama penulis, tahun terbit, judul buku, dan nama kota  
     tempat terbit
3. Tanda titik dua (:), digunakan diantara kota tempat penerbit dan nama penerbit.

Unsur-unsur daftar pustaka
1. Nama pengarang
2. Tahun terbit
3. Judul buku
4. Tempat terbit
5. Nama terbit

A. Nama pengarang

1. Nama pengarang ditulis lengkap sesuai dengan nama yang tertera disumber acuan.
2. Gelar akademik tidak dicantumkan.
3. Apabila nama pengarang lebih dari satu kata penulisannya harus dibalik dengan cara  
    nama akhir pengarang ditulis terlebih dahulu kemudian disusul nama pertama. Diantara  
    nama akhir dan nama pertama diberi tanda koma.
4. Jika pengarang terdiri atas 2 orang hanya nama pengarang pertama yang nama akhirnya
    dibalik, sedangkan nama pengarang ke-2 tidak dibalik.
5. Jika pengarang lebih 2 orang, hanya nama pengarang pertama yang dibalik kemudian
    diambah singkatan dkk (dan kawan-kawan)
6. Jika buku hanya ditulis nama editor, bukan nama pengarangnya penulisan nama editor
    singkatan ed. dibelakang nama.

Contoh
Data nama pengarang Penulisannya menjadi Penyusunan (alfabetis)
Gorys Keraf Keraf, Gorys Hadi, Shaywan, dkk
Gorys Keraf dan Fransasiasi datang Keraf, Gorys dan Fransasiasi datang Kentjono, Djoko (ed).
Drs. Suroso Suroso Keraf, Gorys
Shafwan Hadi. Sucipto & Sri Haryanti Hadi, Shafwan dkk Keraf, Gorys dan Fransasiasi datar.
Henry Guntur Tarigan Tarigan, Henry, Guntur Tarigan, Henry, Guntur.

B. Tahun terbit

Tahun tertib ditulis dibelakang nama pengarang.

C. Judul buku

Aturan penulisan :
1. Judul buku harus ditulis lengkap, tidak boleh disingkat.
2. Tiap kata harus diawali dengan huruf kapital kecuali kata sambung.
3. Apabila ditulis tangan atau diketik manual, judul buku harus diberi tanda garis bawah.
4. Apabila diketik komputer, judul buku dicetak miring.
5. Apabila judul buku sangat panjang (hasil penelitian) judul buku tidak digaris bawahi tetapi diapit tanda petik        (“).
6. Jika judul merupakan judul artikel dalam surat kabar atau majalah tabloid judul tersebut diapit tanda petik dan nama media masa yang memuatnya dicetak miring.

Contoh penulisan judul buku :
a. Terampil Berbahasa Indonesia 2 Program IPA dan IPS.
b. “Pendekatan Keterampilan Proses Pendekatan Konsep dalam Pembelajaran Kalimat
    Sederhana : “Eksperimen di SMP Negeri Banyumas Kelas 1 Tahun Pelajaran 1991/
    1992”.
c. Indriyati, Diah. 2001. “Mengolah Air Minum”. Dalam Kompas 22 Oktober 2001.
   Jakarta.

D. Nama Kota

Nama kota maksudnya nama kota penerbit buku.
Aturan Penulisan :
1. Nama kota harus ditulis lengkap.
2. Nama kota harus diawali dengan huruf kapital.
3. Nama kota ditulis setelah judul buku.
4. Setelah nama kota diberi tanda titik dua (:).

E. Nama Penerbit

Nama penerbit adalah nama perusahaan atau instansi yang menerbitkan buku tersebut, bukan nama perusahaan atau instansi yang mencetak (percetakan), kecuali apabila yang mencetak dan menerbitkan buku tersebut perusahaan atau instansi yang sama.

Aturan Penulisan
1.  Nama penerbit harus ditulis lengkap.
2.  Tiap kata harus diawali huruf kapital.
3.  Nama penerbit ditulis setelah nama kota dan diakhiri tanda titik (.).
4.  Jika satu buku tidak terdapat nama pengarang dan buku tersebut diterbitkan oleh suatu l
     lembaga atau institusi, maka nama lembaga / institusi tersebut dituliskan sebagai
     pengganti nama pengarang dan nama penerbit tidak dituliskan lagi.

Contoh :
a. Keraf, Gorys. 1989. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia.
b. Pusat Kurikulum. Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA. Jakarta.

Urutan Penulisan Sumber atau Daftar Pustaka
Nama Pengarang. Tahun Terbit. Judul Buku. Nama Kota : Nama Penerbit.Penjelasan.

1. Penulisan daftar pustaka dimulai dari batas tepi kiri hinga batas tepi kanan. Apabila       
    dalam satu baris belum selesai, maka dianjurkan baris dibawahnya dengan cara
    menjorok ke tengah ke dalam lebih kurang 5 – 7 spasi (seperti penulisan alinea baru).
2. Penulisan daftar pustaka tidak boleh diawali dengan penomeran.
3. Penulisan daftar pustaka harus secara alfabetis berdasarkan nama pengarangnya.
4. Tanda baca yang dipakai adalah tanda titik, tanda koma, dan tanda titik dua.
     a. Tanda titik (.) dipakai setelah nama pengarang, tahun terbit, judul buku, nama
          penerbit.
     b. Tanda koma (,) dipakai pada penulisan nama pengarang yang lebih dari satu kata.
     c. Tanda titik dua ( dipakai diantara nama kota dan nama penerbit.

Contoh penulisan :
DAFTAR PUSTAKA
Firman, Harry dan Liliasari. 1997. Kimia I untuk Sekolah Menengah Umum Kelas I.  
       Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Foster, Bab. 2000. Terpadu : Fisika SMU Jilid 2 A untuk kelas 2 Tengah Tahun Pertama.  
       Jakarta : Erlangga.

Noormandiri, B.K. dan Endar Sucipto. 2000. Buku Pelajaran Matematika untuk SMA Jilid
       3 Kelas 3. Jakarta : Erlangga.

http://babeheko.blogspot.com/2010/08/daftar-pustaka-atau-bibiliografi.html

09.46 | Posted in | Read More »