Pengawas Unas Kurang Teliti


CILACAP - Sekretaris Dewan Pendidikan Cilacap, Sani Aryanto menemukan sejumlah kesalahan administratif  ujian nasional hari pertama, Senin (18/4) yang dilakukan pengawas. Menurutnya, pengawas kurang teliti saat melengkapi data dalam sampul soal ketika hendak dibagikan ke siswa.

"Ada beberapa kesalahan karena kurang teliti. Pertama adalah masalah sampul. Ini terjadi saat soal baru dibagikan," ujarnya kepada Radar Banyumas (Group JPNN) di sela-sela peninjauan proses Unas.

Kesalahan lain, lanjutnya adalah pengisian kolom dalam sampul yang berisi keterangan mengenai jurusan, nama sekolah, kabupaten dan seterusnya. Pihaknya menemukan sejumlah pengawas yang menuliskan nama kabupaten dalam lajur nama jurusan. "Misalnya jurusan otomotif. Tapi ditulis Kabupaten Cilacap. Lajur kabupaten juga diisi Cilacap," ujanya.

Hal ini, lanjutnya bisa berakibat fatal karena lembar jawaban siswa bisa saja tertukar saat pengumpulan di dinas provinsi dan pada akhirnya merugikan siswa. "Bisa saja lari kemana-mana. Ini bisa merugikan siswa," katanya.

Permasalahan tersebut, diakuinya langsung ditangani oleh panitia setempat dengan mengganti sampul itu dengan sampul cadangan. "Langsung diatasi. Sampul diganti dengan sampul cadangan," katanya lagi.

Untuk itu, pihaknya meminta agar semua pihak bisa lebih teliti dalam pengisian sampul dan data administrasi lainnya. Seperti dengan mengecek kode soal, dan sebagaianya. Panitia lokal juga diminta melakukan cek ulang sebelum lembar jawaban dikirim ke masing-masing komisariat daerah atau komda. "Pengawas, panitia harus teliti dan mengecek ulang," pintanya.

Kedepan, dia berharap agar pelatihan bagi calon pengawas dilakukan selama dua hari. Ini agar pengawas benar-benar memahami pola pengawasan dan juga pengisian administrasi. Ini terkait adanya perbedaan UN tahun ini dengan pelaksanaan sebelumnya. Dia mencontohkan adanya lima paket soal dimana sebelumnya hanya ada dua paket.

"Kalau bisa workshop jangan sehari meski tiap tahun ada Unas. Tapi (Unas) kali ini sedikit berbeda dengan adanya lima paket soal. Jangan sampai pengawas salah mengisi kode paket soal," tandasnya. (har/awa/jpnn)
 
http://www.jpnn.com/read/2011/04/19/89889/Pengawas-Unas-Kurang-Teliti-

09.09 | Posted in | Read More »

Polisi Banyumas Dilibatkan dalam Pengawalan Soal UN


PURWOKERTO, (PRLM).- Polisi akan dilibatkan dalam pengawalan soal ujian nasional SLTA yang akan diselenggarakan Senin (18/4). Naskah soal akan dikawal ketat petugas kepolisian. sejak dikirim dari percetakan di Kudus hingga ke Banyumas Jawa Tengah, pengawalan polisi ini untuk menghindari kebocoran soal UN.
"Sejak dari kantor pencetakan soal di Kudus hingga Banyumas akan dikawal oleh polisi," kata Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Apenk Sunarto MPd, Jumat (15/4).
Bahkan untuk menghindari kebocoran selama waktu distribusi, pengiriman naskah soal dengan pelaksanaan ujian, juga dibuat sangat pendek. ''Naskah soal tersebut, baru akan sampai di Banyumas Sabtu (16/4), langsung didistribusikan ke masin-masing rayon," jelasnya.
Ada lima titik sub rayon lokasi penyimpanan soal sebelum didistribusikan langsung ke sekolah-sekolah. ''Untuk penyelenggaraan ujian ini, kita membagi wilayah Banyumas menjadi lima rayon. Nantinya, naskah soal dari percetakan di Kudus, langsung dikirim ke posko sub rayon tersebut, di tempat penyimpanan ini juga dilakukan penjagaan ketat,'' tambahnya.
Dinas sudah berkoordinasi dengan Polres Banyumas untuk pengawalan naskah UN, untuk teknis pengawalan pihak dinas sudah menyerahkan kepada aparat. Pengiriman ke sekolah-sekolah yang akan menyelenggarakan ujian, akan dilaksanakan mulai Senin (18/4) pagi. ''Pukul 07.00, naskah soal tersebut sudah sampai di sekolah-sekolah penyelenggara ujian. Naskah soal itu, tidak dikirim sekaligus untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Tapi dikirim setiap hari, sesuai dengan mata pelajaran yang
diujikan pada hari itu,'' jelasnya
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Santosa Eddy Prabowo menambahkan bahwa seluruh persiapan menghadapi UN sudah dilaksanakan sekolah-sekolah di Banyumas. ''Semuanya sudah siap, hanya tinggal pelaksanaannya saja,'' katanya.
Dia menyebutkan, jumlah peserta UN tingkat SMA/MA/SMK di Kabupaten Banyumas tahun 2011 ini, ada 15.195 siswa yang terbagi dalam 111 sekolah penyelenggara UN. Jumlah itu terdiri dari 5.975 siswa kategori SMA/MA/SMALB dengan 44 sekolah penyelenggara dan 9.220 siswa SMK dengan 57 sekolah penyelenggara. (A-99/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/141809

08.53 | Posted in | Read More »

Gempa dan Paskah, Tiga Provinsi Batal Ujian



 
Selasa, 26 April 2011 , 09:21:00
 
JAKARTA – Upaya pemerintah meminimalkan kecurangan dalam ujian nasional (unas) tidak berjalan mulus. Baru saja unas SMA selesai, ditemukan dugaan kebocoran naskah ujian fisika di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Akibatnya, seluruh sekolah SMA dan sederajat di kabupaten tersebut harus mengikuti ujian ulang Kamis depan (28/4). Menurut Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Aman Wirakartakusumah, dugaan kebocoran soal itu bermula dari laporan yang diterima posko daerah setempat. Bocoran soal tersebut berawal dari SMAN I Paguat, Pohuwato, kemudian menyebar ke delapan SMA di kabupaten itu.
”Setelah ditelusuri, dugaan kebocoran soal itu benar. Saat dipergoki, kepala sekolah tengah membandingkan soal fisika. Ternyata, setelah diselidiki, sekolah tersebut telah membuka soal lebih dulu dan menyebarkannya kepada peserta ujian. Mereka sudah diperiksa dan dimintai keterangan,” papar Aman di Kantor Kemendiknas kemarin (25/4).

Setelah kebocoran tersebut terbukti, berdasar hasil rapat BSNP dengan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) dan Kemendiknas, diputuskan unas untuk mata pelajaran fisika dibatalkan. Sebanyak 345 siswa yang tersebar di delapan SMA di Kabupaten Pohuwato diwajibkan mengikuti ujian ulang. Sekolah-sekolah tersebut adalah SMAN I Paguat (45 siswa), SMA I Marisa (100 siswa), SMA I Randangan (38 siswa), SMAN I Lemito (29 siswa), SMAN I Popayato (69 siswa), SMAN I Buntulia (18 siswa), MAN Al Ikhlas Paguat (24 siswa), dan MAN Al Khaerat Marisa (22 siswa).

Aman menyatakan, pihaknya mewajibkan ujian ulang bagi seluruh SMA di kabupaten tersebut. Sebab, diduga kebocoran telah menyebar ke sejumlah sekolah itu. Permintaan ujian ulang tersebut juga datang dari dinas pendidikan setempat. ”Teknologi saat ini mendukug percepatan penyebaran (kebocoran) soal tersebut,” papar dia. Untuk mengantisipasi terulangnya kebocoran soal, akan digunakan naskah yang berbeda dalam ujian itu dengan lima jenis paket. BSNP pun baru akan mengirim naskah tersebut sehari sebelum ujian ulang dimulai, yakni Rabu (27/4). ”Soal akan dikirim Puspendik dan dibawa langsung dari sini (Jakarta, Red),” ungkap dia.

Mengenai sanksi untuk pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kebocoran tersebut, Aman menyerahkan urusan itu kepada kepolisian dan pemerintah daerah setempat. ”Itu bukan kewenangan kami,” imbuhnya.Sementara itu, unas tingkat SMP yang berlangsung mulai kemarin juga bukan tanpa kendala. Pemerintah menyatakan, masih ada masalah, seperti kekurangan soal, cetakan naskah soal yang kurang jelas, bencana alam, hingga perayaan hari besar keagamaan. Menurut Ketua Panitia Pusat Unas Mansyur Ramly, masalah kekurangan soal dan hasil cetak yang kurang jelas telah diantisipasi dengan naskah cadangan dan soal yang difotokopi dengan pengawasan ketat pihak berwenang. Namun, masalah bencana alam dan hari libur keagamaan (Paskah) membuat pemerintah terpaksa membatalkan ujian dan memundurkannya.

Mansyur mengungkapkan, di Kendari, Sulawesi Tenggara, sejumlah sekolah setingkat SMP memulangkan siswa yang mengikuti unas bahasa Indonesia sesuai dengan permintaan para orang tua. Para wali murid mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka karena terjadi gempa bumi di wilayah tersebut. ”Ujian batal karena kepanikan orang tua soal gempa. Jadi, mereka menjemput anak-anaknya di sekolah. Padahal, anak-anaknya tidak begitu merasakan (gempa). Tapi, itu kami hormati,” papar dia.  Sementara itu, di Papua dan Papua Barat, unas hari pertama tidak dilaksanakan karena para siswa masih libur untuk perayaan Paskah. Penetapan libur hingga Senin atau hari pertama unas tersebut merupakan keputusan pemerintah daerah setempat. Soal itu, pemerintah pusat menyatakan akan melangsungkan unas bahasa Indonesia pada Kamis nanti. ”Hanya ujian Senin yang ditiadakan. Unas Selasa dan seterusnya tetap berjalan,” imbuh dia. (ken/c11/nw)

Segera Jadi Besan SBY
MENKO Perekonomian Hatta Rajasa tidak lama lagi menjadi besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hari ini putri Hatta, Siti Ruby Aliya Rajasa, akan dilamar putra bungsu SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Ibas. Keluarga SBY direncanakan datang ke kediaman keluarga Hatta di kawasan Fatmawati Golf Mansion, Jakarta Selatan. ’’Insya Allah, doain saja,’’ jawab Hatta singkat saat dikonfirmasi tentang acara pertunangan Aliya dan Ibas di Kantor Presiden kemarin (25/4).Dia lebih banyak menjawab dengan senyuman sembari bergegas menuju ruang rapat saat wartawan menanyakan lamaran yang bertepatan dengan hari ulang tahun ke-25 Aliya itu.

Setelah mengikuti rapat, Hatta kembali dicecar wartawan. Jawaban yang meluncur dari mulut mantan Menhub dan Mensesneg itu tetap sama. Namun, saat ditanya apakah wartawan akan diundang, dia menghentikan sejenak langkahnya.’’Sementara, tentu karena sifatnya (acara) sangat keluarga, belum dulu lah,’’ tuturnya. ’’Nanti kalau sudah Selasa (selesai acara, Red), saya jelasin,’’ ujar pejabat yang identik dengan rambut putihnya itu.Entah kebetulan atau tidak, SBY dan Hatta kemarin sama-sama memiliki agenda yang cukup padat. Hal tersebut memunculkan spekulasi bahwa hari ini keduanya akan berfokus pada acara lamaran Aliya.
SBY melakukan rapat kabinet terbatas (ratas) yang membahas lumpur Lapindo di Sidoarjo, TKI, dan HaKI (hak kekayaan intelektual). Seusai ratas, dia menerima Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang dilanjutkan dengan mendengarkan paparan Wapres Boediono tentang rencana pembangunan Papua dan Papua Barat.
Sementara itu, Hatta memiliki agenda rapat pukul 07.00 di kantornya dan mengikuti ratas di Kantor Presiden pukul 10.00. Kemudian, di kantornya pukul 15.00 hingga 17.00, dia berturut-turut menerima kunjungan kehormatan Dubes Korsel, beraudiensi dengan SK Group, menerima Dubes AS, serta menerima audiensi China Development Bank Corp.

Namun, karena masih mengikuti rapat dan paparan Wapres di Kantor Presiden, acara sore Hatta ditunda hingga pagi ini. ’’Besok (hari ini, Red) saya seperti biasa. Saya tidak pernah kosong agenda tiap hari,’’ tegas Hatta saat ditanya apakah bakal mengosongkan agenda saat hari lamaran Aliya dan Ibas.Kabar rencana pernikahan Aliya dan Ibas tercium sejak Maret lalu. Hari lamaran dipilih bertepatan dengan hari ulang tahun ke-25 Aliya yang lahir pada 26 April 1986. Sementara itu, tanggal pernikahan dikabarkan dipilih tepat pada hari ulang tahun ke-31 Ibas, yakni 24 November 2011. Ibas lahir pada 24 November 1980.Aliya memang disebut dekat dengan keluarga SBY. Alumnus Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB itu bersama Annisa Pohan mendirikan Yayasan Tunggadewi yang mengelola Rumah Pintar Cikeas pada Maret 2010. Annisa Pohan adalah istri Agus Yudhoyono, putra sulung SBY. (fal/c5/nw)
 
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=90264

08.44 | Posted in | Read More »

[caption id="attachment_28" align="alignleft" width="300" caption="Foto di Pusat Bahasa"]MGMP KE PUSAT BAHASA[/caption]

13.33 | Posted in | Read More »

UJIAN MENYIMAK BAHASA INDONESIA


Ujian praktik menyimak bahasa Indonesia untuk SMA Kab. Banyumas segera kita laksanakan.  Bagi rekan-rekan guru anggota MGMP bahasa Indonesia Kab. Banyumas yang memerlukan teks materi ujian menyimak, kami persilakan download di sini.

Untuk CD rekaman dapat diambil ke pengurus MGMP setiap saat jam kerja.  Selamat bekerja. Terima kasih atas kunjungan dan kerjasamanya.

11.08 | Posted in | Read More »

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) BAHASA INDONESIA SMA

PENINGKATAN KETERAMPILAN PIDATO PERSUASIF

PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI

METODE SIMULASI LOMBA PIDATO BERBAHASA INDONESIA

PADA KELAS XII IPS 1 SEMESTER 1 SMA NEGERI AJIBARANG

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Sutoro*


Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia kelas XII IPS 1 SMA Negeri Ajibarang. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa Metode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan pidato persuasif siswa kelas XII IPS 1 semester 1 Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar pengamatan, bagan lomba, lembar soal evaluasi, lembar penilaian. Data yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, yaitu hasil evaluasi tertulis siklus I adalah 68,40 siklus II 86,06. psikomotorik siklus I 63,20, siklus II 69,00. Ketuntasan belajar siklus I 25%, siklus II 82%.

Kata kunci: ketrampilan, metode simulasi, pidato.
Pendahuluan.

Kesan bahwa materi pelajaran berpidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia tidak menyenangkan (membosankan), yang muncul setiap siswa diajar ketrampilan berpidato, menjadi cermin betapa mengajarkan materi berpidato sebagai materi yang harus diusahakan sungguh-sungguh. Pidato masih dianggap momok, sesuatu yang menakutkan bagi siswa. Untuk dapat berpidato di depan khalayak memang harus menguasai materi yang hendak disajikan, harus mempunyai teknik berbicara yang baik, mempunyai keberanian mental. Jadi tidak sekadar teori pidato, apalagi tanpa praktik.

Teknik mengajar yang konvensional tidak lagi dipercaya sebagai sistem yang relevan dengan tuntutan kemampuan psikomotorik pada hasil belajar siswa. Guru dituntut inovatif dalam menggali metode-metode pembelajaran. yang kreatif. Guru tidak lagi harus mempertahankan dan membanggakan teknik maupun metode masa lalunya. Zaman semakin berkembang, tuntutan masyarakat semakin meningkat. Metode mengajar pun harus semakin bervariatif. Guru yang masih berkutat dengan metode mengajar masa lalunya, akan “ditinggalkan” oleh siswa-siswanya.

Proses belajar di sekolah bukan sekadar memorisasi dan recall, bukan sekadar penekanan pada penguasaan tentang apa yang diajarkan (logos). Akan tetapi, lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipratikkan dalam kehidupan oleh peserta didik (etos).(Depdiknas MPMBS, 2001).

Berbicara di depan publik, suka atau tidak, merupakan keterampilan yang harus kita kuasai, karena pada suatu saat dalam kehidupan kita, pastilah kita harus berbicara di hadapan sejumlah orang untuk menyampaikan pesan, pertanyaan, tanggapan atau pendapat kita tentang sesuatu hal yang kita yakini. (http://sinarharapan.co.id, 2002).

Diakui atau tidak, lebih dari 60% siswa merasa takut bila harus berpidato dalam forum formal di depan banyak orang (public). Baik pada diskusi, ceramah, presentasi, maupun pidato perpisahan, bahkan pidato di depan teman sekelasnya.

Fenomena ini sangat memprihatinkan bagi guru bahasa Indonesia. Betapa tidak, keterampilan berbicara adalah bagian dari empat aspek keterampilan pelajaran bahasa yang harus diajarkan kepada siswa. Jadi bukan hanya teori yang harus dikuasai, namun kemampuan praktik berbahasa pun harus dikuasai.

Sering pengajaran pidato, guru menggunakan metode ceramah , siswa kurang mendapat kesempatan melakukan praktik berbicara di depan orang lain, karena lebih banyak bersifat teori. Maka dapat diartikan kemampuan berpidato siswa sebatas teori.

Dari fenomena di atas maka upaya peningkatan kemampuan berpidato para siswa merupakan hal yang mendesak dan segera diatasi jalan keluarnya.

Salah satu upaya untuk itu adalah menerapkan Model Pembelajaran dengan Metode Simulasi Lomba Pidato pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpidato para siswa.

Dengan demikian maka masalah dalam penelitian tindakan ini ialah:

Apakah Hasil prestasi siswa dapat ditigkatkan melalui Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia?

Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia, bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran pidato, sehingga dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, terutama pada pembelajaran pidato. Dan meningkatkan prestasi akademik siswa.

Lima Hukum Yang Komunikatif (The 5 Inevitable Laws of Effective Communication) yang dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih. Karena diyakini bahwa komunikasi pada dasarnya adalah upaya bagaimana meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain. (http://sinarharapan.co.id, 2002).

Jadi pidato merupakan perpaduan ketrampilan dalam meraih perhatian pendengar, menyampaikan materi pidato dengan penuh cinta kasih, membangkitkan minat pendengar terhadap materi pidato, sehingga tumbuh kepedulian, dan simpati positif, serta berani memberikan tanggapan dan respon positif terhadap peristiwa dalam materi pidato.

Pidato menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Dalam hal ini pikiran yang akan disampaikan kepada orang banyak tentu merupakan informasi atau ilmu bagi orang lain, yang dapat berasal dari bidang lain, di luar bahasa Indonesia. Ini artinya seorang yang berpidato membutuhkan penguasaan materi pidato, di samping itu harus menguasai teknik berpidato, bagaimana menyampaikan materi yang runtut, jelas, mudah dimengerti. Ini semata-mata karena mereka akan berhadapan dengan orang banyak (public).

Banyak cara yang telah dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pelajarannya di depan kelas. Tidak sedikit variasi yang dipakai guru dalam kegiatan belajar mengajar. Segala teknik telah diterapkan untuk mempermudah penyampaian materi pelajaran kepada siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Teknik, cara, ataupun apa istilahnya, dalam kegiatan belajar mengajar dinamakan metode. Bagaimana sesungguhnya metode yang dapat digunakan dalam pengajaran pidato di kelas?

Pidato merupakan jenis keterampilan yang menuntut keberanian untuk mencoba, bukan sekadar teori berpidato. Agar siswa benar-benar diberi kesempatan pidato, minimal di depan teman sekelasnya, maka metode simulasi adalah salah satu metode yang dapat digunakan. Dengan keseringan mencoba praktik pidato akan tumbuh keberanian, dan selanjutnya mampu meningkatkan kemampuan diri sehingga dapat memperbaiki kesalahan sendiri.

Metode Simulasi adalah bentuk metode praktik yang sifatnya untuk mengembangkan keterampilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik di dalam situasi yang sesungguhnya. (http://media.diknas.go.id/media/document/3553.pdf).

Setidaknya metode simulasi memberi kesempatan pada siswa untuk mencoba pidato, mulai dari persiapan sampai dengan penampilan di depan orang lain. Bukan sekadar belajar teori pidato, atau sebatas pengetahuan pidato, tetapi belajar teori pidato yang sekaligus mempraktikannya. Maka keterampilan pidato, yang memang membutuhkan banyak pengetahuan. Metode simulasi ini dapat membantu guru bahasa Indonesia untuk mempermudah dan mengefektifkan pembelajaran pidato di hadapan para siswanya.

Lomba pidato adalah ajang kompetisi ketrampilan pidato bagi siswa. Ajang simulasi pidato dapat dimanfaatkan sebagai ajang berlatih bagi para siswa sebelum mereka terjun ke masyarakat.

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian lomba adalah 1. adu kecepatan (berlari, berenang, dsb). 2. adu ketrampilan (ketangkasan, kekuatan dsb.). Jadi pada situasi lomba yang dimaksud dalam pengertian ini adalah mengubah kondisi kelas pembelajaran menjadi situasi berlomba. Dalam hal ini penekanannya pada; adanya adu ketrampilan antarsiswa, sehingga ada rasa bersaing sesama siswa, ada unsur penilaian. Penilaian ini akan berdampak siswa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ada unsur kemenangan. Siswa akan merasa bangga atas prestasi yang dapat dicapai. Ada unsur penghargaan. Penghargaan ini hanya sebatas pada nilai maupun pujian, ataupun sebutan tertentu, seperti super orator atau sebutan yang lain.

Namun, kembali lagi bahwa lomba ini hanya merupakan simulasi untuk pembelajaran. Jadi sifatnya penyemangat, dan klinis, memperbaiki kemampuan belajar siswa, suasana menyenangkan, dan pada penilaiannya pun tidak membuat siswa jera, bagi yang tidak dapat meraih prestasi baik. Dan tidak menjadikan siswa takabur, bagi yang berprestasi baik.

Pada cakupan ini, lomba yang dimaksud adalah lomba pidato berbahasa Indonesia. Artinya materi pidato boleh dari berbagai tema, tidak harus tema-tema ilmu bahasa Indonesia, tetapi boleh tema ekonomi, lingkungan, politik, sosial, budaya, atau yang lain sebatas tidak melanggar hukum maupun kaidah SARA. Dan pidato ini harus menggunakan bahasa Indonesia.

Pidato, di samping untuk memberi informasi kepada pendengar, bisa untuk mempengaruhi atau memerintahkan sesuatu kepada pendengarnya supaya berbuat sesuatu yang diinginkan pembicaranya.

Menurut Burgoon & Rufner, persuasi ialah proses komunikasi yang bertujuan mempengaruhi pemikiran dan pendapat orang lain agar menyesuaikan pendapat & keinginan komunikator. Atau proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan untuk mengubah sikap, keyakinan, dan pendapat sesuai keinginan komunikator. Namun ajakan ini bukan berarti paksaan atau ancaman. (http://baguspsi.blog.unair.ac.id/2008/10/15/komunikasi-persuasi/)

Apabila pidato itu ditulis maka menjadi bentuk teks pidato yang siap dibacakan (menggunakan teknik membaca teks) maka tulisan itu pun harus bersifat persuasi.

Tulisan persuasif adalah tulisan yang berisi himbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Agar hal yang disampaikan itu dapat mempengaruhi orang lain, tulisan harus disertai penjelasan dan fakta-fakta. (Dwi Hartati, http://www.oke.or.id/tutorial/BI-pargrafpersuasif.pdf).

Jadi intinya agar siswa dapat mempengaruhi orang lain (audiens) untuk melakukan sesuatu, sesuai keinginan pembicara.

Pidato merupakan bagian dari proses komunikasi. Dalam sebuah komunikasi tentu ada lawan bicara, ada kandungan informasi yang disampaikan. Muatan informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah dan benar. Di samping itu pidato dapat mengakibatkan berubahnya pikiran pendengar selaras dengan isi pidato yang telah didengarnya.

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu komunikasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan merupakan suatu kejadian, peristiwa, sesuatu yang terjadi, komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembaca. Brown (dalam Tarigan, 1981:10-11).

Jadi pidato merupakan proses komunikasi yang berisi sebuah informasi, mengandung maksud, dan menimbulkan efek berubahnya pikiran seseorang.

Oleh karena itu untuk dapat melakukan pidato, seseorang harus dapat menguasai informasi atau materi yang akan dikomunikasikan, harus menguasai teknik berbicara agar maksud informasi dapat dipahami dengan baik, pidato efektif, serta mampu mengubah pikiran pendengar.
METODE

Kegiatan ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini siswa kelas XII IPS1 SMA Negeri Ajibarang.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tahap Pelaksanaan tindakan, tahap observasi, tahap refleksi. Secara singkat dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.





TABEL 1 Pelaksanaan Tindakan pada Setiap Siklus


Siklus/Materi

Pokok/Waktu

Rencana Tindakan


Awal


Pertengahan


Akhir

Siklus 1

Cara berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat

4 x 45 menit
Siswa mempersiapkan diri untuk memper-oleh pelajaran tentang pidato, dan penyiapan alat tulis masing-masing. Guru menyiapkan perangkat mengajar, lembar-lembar pengamatan. Siswa memperhatikan penjelasan guru ten-tang teknik pidato, seperti komponen pidato, teknik pidato dari segi lafal, intonasi, nada, dan sikap pidato.

Siswa menyusun teks pidato persuasif.

Siswa pratik pidato dan sekaligus meng-amati teman lain yang sedang berpidato. Guru melakukan observasi.
Siswa mendisku-sikan kekurangan dan kelebihan dalam pidato, melaksana-kan nevaluasi. Guru melakukan refleksi
Siklus 2

Cara berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat (perbaikan teknik/ metode)

4 x 45 menit
Siswa lebih memper-siapkan diri untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap.

Guru menyiapkan materi menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia.
Siswa memperoleh penjelasan dengan metode mengajar yang lebih lengkap. Guru melakukan presentasi menggunakan media pembelajaran berbasis IT. Siswa memberikan komentar atas pem-belajaran pidato yang telah dilaku-kan. Dan melaksana-kan evaluasi tertulis

Guru melakukan refleksi

Pengamatan ini dipusatkan pada aktivitas pembelajaran dan keterampilan siswa dalam melaksanakan tugas pelajaran.

Keunggulan metode simulasi ini, semua siswa mempersiapkan materi pidato yang berupa teks. Semua siswa tampil di hadapan siswa lain di kelasnya. Siswa diberi kesempatan mengamati dan diamati siswa lain dalam berpidato. Baik dari segi bobot materi pidato, penampilan, maupun bahasa yang digunakan.

Data yang akan diambil adalah kualitas teks pidato, data penampilan yaitu: Keakuratan informasi, Hubungan antar-informasi, Ketepatan struktur dan kosa kata, Kelancaran berpidato, Kewajaran urutan wacana, Gaya pengucapan, Lafal, Intonasi, Nada, dan Sikap. Data yang diperoleh dapat berupa nilai kualitatif. Sedangkan data kuantitatif dapat diambil dari nilai evaluasi koqnitif secara tertulis.

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti dalam pengambilan data, dengan saat praktik pidato yang hampir bersamaan, maka penulis menggunakan teknik sampel. Pada penelitian tindakan ini sekurang-kurangnya sampel yang digunakan mencapai siswa 20 orang.

Indikator Kinerja penelitian ini setidak-tidaknya 80% dari jumlah siswa dapat membuat teks pidato tertulis. Sekurang-kurangnya 80% jumlah siswa dapat melaksanakan pidato di depan teman-temannya. Sekurang-kurangnya 80% jumlah siswa dapat mengamati penampilan siswa lain. Artinya siswa melihat kelebihan dan kekurangan teknik berpidato siswa lain. Dan sekurang-kurangnya 70% jumlah siswa dapat memahami konsep teknik pidato.
Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian.

Pada awalnya siswa pesimis atas kemampuannya dalam berpidato. Namun setelah mendapatkan penjelasan tentang teknik menyiapkan naskah pidato, teknik berpidato, dan menyaksikan simulasi lomba pidato, maka siswa mulai berangsur lebih optimis. Ada pengetahuan yang belum pernah didapatkan sebelum pembelajaran ini. Setidak-tidaknya ada peningkatan pemahaman tentang konsep berpidato. Namun demikian keterampilan pidato, seperti pembicara yang profesional, belum mampu dikuasai. Masih butuh banyak waktu untuk belajar.

Data observasi yang telah diperoleh dengan model lomba pidato berbahasa Indonesia dalam Siklus 1 masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Nilai rata-rata kelas praktik berpidato baru mencapai 63,20. Masih berada di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 65. Adapun rata-rata skor keakuratan informasi pidato 6,70, Hubungan antar-informasi 6,15, Ketepatan struktur dan kosa kata 6,45, Kelancaran berpidato 6,55, Kewajaran urutan wacana 6,35, Gaya pengucapan 6,25, Lafal 6,45, Intonasi 6,10, Nada 6,15, dan Sikap 6,05. Belum sesuai dengan indikator KKM yang diharapkan. Dan nilai rata-rata evaluasi koqnitif tertulis mencapai 68,40.

Ini berarti masih ada kekurangsempurnaan pada perencanaan ataupun pada proses pembelajaran. Siswa belum dapat melakukan pidato dengan baik, meskipun semua siswa telah mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan pidato di depan teman-temannya. Dan hasil evaluasi tertulis menunjukkan hasil yang baik. Dari hasil refleksi pada siklus 1 maka perlu ada perbaikan prosedur pembelajaran pada penyempurnaan model pembelajaran, termasuk pada simulasi pidato.

Memperhatikan hasil Pelaksanaan Kegiatan dalam siklus II diperoleh data bahwa pembelajaran dengan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat mengalami peningkatan kemampuan dan prestasi. Nilai yang dapat dicapai pada siklus II rata-rata praktik (penampilan) adalah 69,00. Jumlah skor tersebut diperoleh dari rata-rata skor: Keakuratan informasi pidato 7,45, Hubungan antar-informasi 7,00, Ketepatan struktur dan kosa kata 7,09, Kelancaran berpidato 6,91, Kewajaran urutan wacana 6,86, Gaya pengucapan 6,77, Lafal 6,59, Intonasi 6,55, Nada 6,95, dan Sikap 6,82.

Indikator kinerja yang dapat dicapai yaitu semua siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ini berarti kinerja siswa melaksanakan pidato di depan teman-temannya, siswa dapat memberikan penilaian terhadap penampilan siswa lain, dapat mencapai 100%. Nilai evaluasi koqnitif tertulis secara umum telah mencapai target yang diinginkan yaitu 86,06 atau 86%.

Melihat dari rata-rata skor yang diperoleh pada masing-masing tingkatan skala yang tersedia belum dapat mencapai skor yang optimal. Belum ada yang dapat mencapai skala 8 (delapan) ke atas. Guru dalam menyampaikan materi sudah lebih baik, lebih lengkap, simulasi lebih mengena pada tujuan pembelajaran. Perhatian siswa terhadap materi pelajaran tampak lebih sungguh-sungguh. Namun melatih kemampuan berpidato siswa ternyata perlu waktu dan keseringan. Motivasi belajar siswa sebenarnya sudah cukup baik, dan antusias. Namun hasil yang dicapai belum dapat optimal, yaitu 69,00.

Akhir siklus II ternyata ketuntasan belajar klasikal sudah dapat mencapai indikator yang diharapkan. Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, pengamatan, dan memotivasi siswa semakin baik. Guru semakin siap dalam memandu diskusi, penjelasan terlihat lebih mantap.

Pembahasan

Berdasarkan evaluasi hasil belajar, observasi, dan penilaian tugas, dihasilkan sebuah ringkasan sebagai berikut:

TABEL 2. RINGKASAN HASIL BELAJAR SIKLUS I DAN II



Hasil Belajar, Aktivitas, Nilai tugas


Hasil Belajar


Siklus I


Siklus II

Nilai terendah (praktik)
57


62

Nilai tertinggi (praktik)
71


76

Rata-rata kelas Praktik)
63.20


69.00

Ketuntasan Belajar (praktik)
25%


82%

Rata-rata tugas (teks pidato)
64.05


68.50





Nilai terendah evaluasi koqnitif (tertulis)
63


73

Nilai tertinggi evaluasi koqnitif (tertulis)
78


100

Rata nilai Evaluasi Koqnitif (Tertulis)
68.40


86.06

Ketuntasan klasikal (tertulis)
90%


100%

Aktivitas membuat teks pidato
100%


85%

Aktivitas melakukan pidato
100%


85%

Aktif dalam diskusi/tanya jawab
18%


30%






  • Foto Siswa SMA Negeri Ajibarang
  • Foto Siswa SMAN Ajibarang
  • Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa penerapan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat memperbaiki hasil belajar maupun ketuntasan belajar klasikal. Nilai terendah yang dapat dicapai 57 pada siklus I dan meningkat pada siklus II yaitu 62. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 71 pada siklus I, dan meningkat menjadi 76 pada siklus II. Rata-rata kelas pada siklus I dapat mencapai nilai 63,20 dan meningkat menjadi 69,00 pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal pada siklus I hanya 25%, meningkat pada siklus II menjadi 82%. Dan nilai rata-rata tugas menyusun teks pidato 64,05 pada siklus I meningkat menjadi 68,50 pada siklus II. Jadi secara umum setiap komponen pada siklus I meningkat pada siklus II.

    Meskipun hasil penelitian ini secara keseluruhan belum menggambarkan hasil nilai koqnitif yang optimal dan belum dapat dikatakan “sangat memuaskan”. Teknik guru menggunakan metode dan menggunakan media pembelajaran sudah ada peningkatan, mampu menarik perhatian siswa. Motivasi belajar siswa pun ada peningkatan.

    Pembelajaran dengan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia pada salah satu kegiatannya dilaksanakan di luar kelas. Siswa tampak senang dan dapat menikmati belajar di luar kelas. Suasana lebih santai, namun tetap sungguh-sungguh melaksanakannya. Dapat menghilangkan rasa takut, yang biasa dirasakan siswa, saat maju berpidato di depan teman-temannya di kelas.

    Metode ini lebih memberi kesempatan siswa untuk mencoba sendiri atau mengalami sendiri, yaitu berpidato di depan teman-temannya (eksperimen). Waktu untuk kegiatan belajar mengajar relatif lebih singkat, meskipun semua siswa harus melakukan pidato secara individual.

    Simpulan dan Saran

    Simpulan.

    Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia pada pengajaran materi pidato persuasi tanpa teks, dapat meningkatkan ketrampilan berpidato pada siswa

    Hasil belajar siswa ada peningkatan yang signifikan. Ini dapat dilihat dari rata-rata nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata kelas, dan ketuntasan belajar klasikal yang lebih baik daripada siklus sebelumnya. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar lebih baik, lebih termotivasi, lebih bersemangat, lebih menyenangkan. Semua siswa diberi kesempatan untuk melaksanakan pidato di depan teman-temannya, sambil diberi kesempatan mengamati kelebihan dan kekurangan orang lain dalam berpidato, sehingga dapat meningkatkan pemahaman terhadap konsep pidato persuasi yang lebih baik.

    Saran

    Mengingat Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia ini dapat menajamkan pemahaman, dan memberikan pengalaman individu yang lebih baik, maka metoda ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi pelajaran bahasa Indonesia yang menuntut pengalaman siswa secara individual. Di samping itu metode ini akan menarik, bila disertai dengan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, dengan kombinasi yang bervariasi. Namun tetap harus diingat, sebaik-baik metode tidak akan dapat diterapkan pada semua situasi dan kondisi materi pelajaran.
    DAFTAR PUSTAKA

    Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara

    Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta.

    Hartati,Dwi. Paragraf Persuasif.

    http://www.oke.or.id/tutorial/BI-pargrafpersuasif.pdf (diunduh 4 Agustus 2009)

    http://baguspsi.blog.unair.ac.id/2008/10/15/komunikasi-persuasi/

    http://media.diknas.go.id/media/document/3553.pdf

    Jurnal Pendidikan Widya Tama Vol. 1 no. 3 LPMP Jawa Tengah. September 2004.

    Prijosaksono, Aribowo dan Roy Sembel. 2002. Berbicara di Depan Publik. http://sinarharapan.co.id (diunduh 17 Juli 2009).

    Nata, Abuddin. 2004. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

    Subyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

    Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

    Winarno, Surachmad. 1984. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik. Bandung: Tarsito.
    -oOo-



    * Guru bahasa Indonesia SMAN Ajibarang Kabupaten Banyumas.

    14.18 | Posted in | Read More »

    Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Bapak, Ibu guru bahasa Indonesia yang butuh Media Pembelajaran Kata Ulang dalam format power point, silakan download secara gratis di sini. semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungan Anda.

    11.05 | Posted in | Read More »