MENULIS PUISI


 MENULIS PUISI DENGAN BAIK

Kata kawanku, puisi itu adalah perwakilan isi hati seseorang. Cara penyampaiannya mesti indah dan selalu menggunakan kata-kata yang terpilih. Hahaha… menurut Anda bagaimana?
Nah, menulis puisi dengan baik itu sebenarnya sangat mudah dan susah. Lho kok? Tapi, benarkan, begitu? Ada beberapa orang mengatakan bahwa “bila saya menulis puisi, saya pasti sedang merasakan sesuatu yang gundah.” Atau ada juga yang bilang, “ aku menulis kegelisahan dalam kesunyian. Jadi, harus ada tempat yang benar-benar sunyi untuk menulis puisi?”
Ada juga yang mengatakan,”puisi itu mudah sekali untuk dibikin. Jadi, konteks dan tempatnya bisa di mana saja asal ada sesuatu yang kita pikirkan untuk kita menulisnya.”
nah, bagaimana dengan Anda?
Perihal yang di atas itu, hanya bagian kecil pandangan orang tentang menulis puisi. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mengasah keterampilan menulis puisi dengan baik. Puisi dapat ditulis berdasarkan apa yang kita lewati dan bisa juga kita tuangkan melalui catatan harian.
ketika Anda sedang merasakan sesuatu hal yang hal itu bisa membuat Anda terkekang atau mungkin Anda berpikir untuk melawan suatu masa yang menurut Anda sedang tidak kondusif. Biasanya, banyak penulis yang memilih puisi sebagai salah satu media perlawanan. Lihat saja beberapa puisi kritik yang dituliskan oleh WS Rendra Cs. Mereka mencoba melawan pemerintah dengan mengangkat unsure-unsur social budaya.
Ada yang berkiblat ke permasalahan percintaan barangkali. Juga demikian. Puisi itu bisa bertemakan apa saja. Nah berikut saya mencoba membagi dua hal yang perlu di perhatikan dalam menulis puisi;

RIMA
Rima (persamaan bunyi) adalah pengulangan bunyi berselang, baik dalam larik maupun pada akhir puisi yang berdekatan. Bunyi yang berima itu dapat ditampilkan oleh tekanan, nada tinggi, atau perpanjangan suara. Puisi-puisi yang bergaya rima kental biasanya adalah puisi-puisi melayu dan beberapa puisi angkatan dibwah penulis kontemporer. Mereka menulis puisi-puisi seperti bentuk pantun modern. Artinya ada beberapa bunyi yang sama pada setiap pengulangan bunyi yang berselang.






IRAMA
Irama atau ritme berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Dalam puisi, irama berupa pengulangan yang teratur suatu baris puisi menimbulkan gelombang yang menciptakan keindahan. Irama dapat juga berarti pergantian keras-lembut, tinggirendah, atau panjang-pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Nah, di sini dulu perjumpaan kita. Semoga menarik dan bisa menjadi bahan diskusi untuk pengembangan tulisan-tulisan kita selanjutnya…
Mari menulis puisi. Mari melawan hati yang gundah.
Catatan kecil dari saya; bacalah puisi-puisi orang lain agar kuat pada pendiksian. Puisi-puisi penulis Amerika Latin atau puisi-puisi dar Afrika mungkin bisa menjadi rujukan Anda. Nah, untuk menguatkan Anda menentukan tema yang akan diangkat menjadi puisi. Baiknya Anda baca buku-buku filsafat.
Oke….
Selamat mencobanya…

Sumber :
http://aamovi.wordpress.com/2010/01/11/menulis-puisi-dengan-baik/

10.01 | Posted in | Read More »

KALIMAT TUNGGAL DAN KALIMAT MAJEMUK

Kalimat
a.    Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
            Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.

  b.  Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
                 Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial


Jenis Kalimat

1.   Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.

Kalimat Tunggal
Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
S-P
S-P-O
S-P-O-K


2.   Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a.   Sebuah  kalimat  tunggal   yang  bagian-bagiannya  diperluas     sedemikian    rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya:  Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
        Misalnya :  Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
         Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
                     Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a.  Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan,   serta, lagipula, dan sebagainya.
      Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b.   Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
                   Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c.   Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
                   Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.

2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
       Misalnya :   Diakuinya  hal itu
                                         P             S
                             Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
                                            anak kalimat pengganti subjek
           b.  Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
       Misalnya :  Katanya begitu
                            Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
                                                anak kalimat pengganti predikat
           c.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
       Misalnya  :   Mereka sudah mengetahui hal itu.
                                  S             P                             O
                              Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
                                                                                  anak kalimat pengganti objek
          d.   Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
       Misalnya  :   Ayah pulang malam hari
                                     S        P             K
                              Ayah pulang ketika kami makan malam
                                                     anak kalimat pengganti keterangan

3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
                        Ketika ia duduk minum-minum
                                                                 pola atasan
                                                  datang seorang pemuda berpakaian bagus
                                                                        pola bawahan I
                                                  datang menggunakan kendaraan roda empat
                                                                       pola bawahan II

                                                                                 

3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a.    Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus   
menjadi  inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1)       Hanya terdiri atas dua kata
2)       Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3)       Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4)       Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh   
          menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b.   Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.

c.   Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat  Inti, Luas, dan Transformasi
a.       Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b.       Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar  
          dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c.        Kalimat transformasi. Contoh:

i)        Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus 
          juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii)       Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik  
          menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii)      Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv)      Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?


4. Kalimat Mayor dan Minor
a.    Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh :    Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
             Kiki pergi ke Bandung.
             Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu  
             kami  di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah. 

b.   Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat. 
    Contoh:     Diam!
 Sudah siap?
 Pergi!
              Yang baru!
              Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
              Contoh:
              Amir mengambil.
 Arif ada.
 Kiki pergi
 Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.


5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas      : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat  : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat      : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.

Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat

 1.   kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
contoh :

  • diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
  •  memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
  • sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
  • saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
  • Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan  pentas seni (salah)

2.   pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :

  • para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
  • para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
  • banyak siswa-siswa (banyak siswa)
  • saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
  • agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
  • disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)


3.    tidak memiliki subjek
contoh:

  • Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
  • Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
  • Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)


4.   adanya kata depan yang tidak perlu

  • Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
  • Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
  • Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5.   salah nalar

  • waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
  • Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
  • Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
  • Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
  • Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
  • Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
  • Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)      

            6.   kesalahan pembentukan  kata 
  • mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
  • menyetop seharusnya menstop
  • mensoal seharusnya menyoal
  • ilmiawan seharusnya ilmuwan
  • sejarawan seharusnya ahli sejarah


7.    pengaruh bahasa asing

  • Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
  • Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
  • Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)

  
8.   pengaruh bahasa daerah 

  • … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
  • … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
  • Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)

.
     Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1.   Konjungsi antarklausa
a.  Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b.  Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2.    Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3.    Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.
 
http://babeheko.blogspot.com/2010/08/kalimat-tunggal-dan-kalimat-majemuk.html

09.55 | Posted in | Read More »

PARAGRAF NARASI

 
I. PENGERTIAN NARASI
Narasi adalah suatu peristiwa atau kejadian yang menimpa seseorang berdasarkan urutan-urutan waktu dan tempat yang jelas dan cerita tersebut dituangkan dalam paragraf.

II. CIRI-CIRI NARASI
Ciri-ciri narasi sebagai berikut :
a. Berisi kejadian atau rangkaian peristiwa yang menunjukan jalinan cerita,
b. Ada unsur pelaku,
c. Ada unsur waktu, dan
d. Ada unsur suasana.

Ciri-ciri narasi yang dikembangkan dengan cara mula-akhir adalah :
a. Kejadian terdapat didalamnya membentuk peristiwa yang runtut ;
b. Kejadian atau peristiwa didalamnya tidak meloncat-loncat melainkan disusun secara
    runtut dari waktu kewaktu; misalnya dari senin, selasa, rabu, dan seterusnya;
c. Menerapkan alur maju atau kronologis.
III. HAL-HAL YANG HARUS ADA PADA NARASI
Hal-hal yang harus ada pada narasi :
Sebuah paragraph narasi harus meiliki satu gagasan pokok yang didukung oleh gagasan-gagasan pendukung yang diwujudkan dalam kalimat-kalimat pendukung. Kalimat-kalimat tersebut berisikan rangkaian pembuatan yang diurutkan sesuai dengan urutan waktu dan tempat berlangsungnya.


Paragraf Narasi dibedakan atas dua jenis yaitu :
• Paragraf narasi Ekspositoris
Paragraf narasi ekspositoris adalah paragraph yang berisikan rangkaian perbuatan yang disampaiakan secara informatife sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat.

• Paragraf narasi Sugestif
Paragraf narasi sugestif adalah paragraf yang berisi rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga merangsang daya khayal pembaca tentang peristiwa tersebut.

Perhatikan dua contoh berikut !
Contoh paragraf narasi Ekspositoris
Siang itu, sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan Klarinet, meniupnya garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu yang masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “ Mars Jalan “ yang dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin. Ramin, Sait si peniup Klariet, dan Kumat si pemegang trompet piston adalah para pemain kesenian tradisional tanjidor yang telah berkiprah puluhan tahun.Mereka bergabung dalam kelompok Tiga Saudara.

Contoh paragraf narasi Sugestif
Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ketanah. Patih pranggulang memungut pedang dan membacokan lagi ketubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal. Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hati bahwa Tunjungsekar tidak bersalah. Lalu dia segera membuat rakit dari kayu-kayu kering dan meminta kepada Tunjungsekar agar menaiki rakit yang akan dihanyutkannya ke tengah laut. Dengan pasrah, Tujungsekar mengikuti saran Patih Pranggulang. Perlahan-lahan rakit itu bergerak meninggalkan pantai, makin lama makin jauh ke tengah laut. Patih Pranggulung memperhatikan rakit yang makin lama makin jauh ke tengah laut dan matanya berkaca-kaca.


Referensi :
Tukan, P. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia SMA kelas x. Jakarta : Yudistira.
Sumaryo, Dkk. 2005. Bahas dan Sastra Indonesia SMA kelas x. Jakarta : PT. 
Grasindo.

http://babeheko.blogspot.com/2010/08/paragraf-narasi.html

09.50 | Posted in | Read More »

DAFTAR PUSTAKA ATAU BIBILIOGRAFI

 Pengertian 
Daftar pustaka adalah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan sebuah karangan / sebagian dari karangan yang tengah digarap. (Keraf, 1989 ; 213)

Fungsi 
Fungsi daftar pustaka adalah sebagai pertanggung jawaban ilmiah terhadap gagasan-gagasan orang lain yang telah digunakan oleh seseorang dalam menjelaskan atau memperkuat gagasannya di dalam sebuah karangan ilmiah.

Tanda baca yang digunakan
1. Tanda koma (,) untuk menandai nama yang dibalik
2. Tanda titik (.), digunakan diantara nama penulis, tahun terbit, judul buku, dan nama kota  
     tempat terbit
3. Tanda titik dua (:), digunakan diantara kota tempat penerbit dan nama penerbit.

Unsur-unsur daftar pustaka
1. Nama pengarang
2. Tahun terbit
3. Judul buku
4. Tempat terbit
5. Nama terbit

A. Nama pengarang

1. Nama pengarang ditulis lengkap sesuai dengan nama yang tertera disumber acuan.
2. Gelar akademik tidak dicantumkan.
3. Apabila nama pengarang lebih dari satu kata penulisannya harus dibalik dengan cara  
    nama akhir pengarang ditulis terlebih dahulu kemudian disusul nama pertama. Diantara  
    nama akhir dan nama pertama diberi tanda koma.
4. Jika pengarang terdiri atas 2 orang hanya nama pengarang pertama yang nama akhirnya
    dibalik, sedangkan nama pengarang ke-2 tidak dibalik.
5. Jika pengarang lebih 2 orang, hanya nama pengarang pertama yang dibalik kemudian
    diambah singkatan dkk (dan kawan-kawan)
6. Jika buku hanya ditulis nama editor, bukan nama pengarangnya penulisan nama editor
    singkatan ed. dibelakang nama.

Contoh
Data nama pengarang Penulisannya menjadi Penyusunan (alfabetis)
Gorys Keraf Keraf, Gorys Hadi, Shaywan, dkk
Gorys Keraf dan Fransasiasi datang Keraf, Gorys dan Fransasiasi datang Kentjono, Djoko (ed).
Drs. Suroso Suroso Keraf, Gorys
Shafwan Hadi. Sucipto & Sri Haryanti Hadi, Shafwan dkk Keraf, Gorys dan Fransasiasi datar.
Henry Guntur Tarigan Tarigan, Henry, Guntur Tarigan, Henry, Guntur.

B. Tahun terbit

Tahun tertib ditulis dibelakang nama pengarang.

C. Judul buku

Aturan penulisan :
1. Judul buku harus ditulis lengkap, tidak boleh disingkat.
2. Tiap kata harus diawali dengan huruf kapital kecuali kata sambung.
3. Apabila ditulis tangan atau diketik manual, judul buku harus diberi tanda garis bawah.
4. Apabila diketik komputer, judul buku dicetak miring.
5. Apabila judul buku sangat panjang (hasil penelitian) judul buku tidak digaris bawahi tetapi diapit tanda petik        (“).
6. Jika judul merupakan judul artikel dalam surat kabar atau majalah tabloid judul tersebut diapit tanda petik dan nama media masa yang memuatnya dicetak miring.

Contoh penulisan judul buku :
a. Terampil Berbahasa Indonesia 2 Program IPA dan IPS.
b. “Pendekatan Keterampilan Proses Pendekatan Konsep dalam Pembelajaran Kalimat
    Sederhana : “Eksperimen di SMP Negeri Banyumas Kelas 1 Tahun Pelajaran 1991/
    1992”.
c. Indriyati, Diah. 2001. “Mengolah Air Minum”. Dalam Kompas 22 Oktober 2001.
   Jakarta.

D. Nama Kota

Nama kota maksudnya nama kota penerbit buku.
Aturan Penulisan :
1. Nama kota harus ditulis lengkap.
2. Nama kota harus diawali dengan huruf kapital.
3. Nama kota ditulis setelah judul buku.
4. Setelah nama kota diberi tanda titik dua (:).

E. Nama Penerbit

Nama penerbit adalah nama perusahaan atau instansi yang menerbitkan buku tersebut, bukan nama perusahaan atau instansi yang mencetak (percetakan), kecuali apabila yang mencetak dan menerbitkan buku tersebut perusahaan atau instansi yang sama.

Aturan Penulisan
1.  Nama penerbit harus ditulis lengkap.
2.  Tiap kata harus diawali huruf kapital.
3.  Nama penerbit ditulis setelah nama kota dan diakhiri tanda titik (.).
4.  Jika satu buku tidak terdapat nama pengarang dan buku tersebut diterbitkan oleh suatu l
     lembaga atau institusi, maka nama lembaga / institusi tersebut dituliskan sebagai
     pengganti nama pengarang dan nama penerbit tidak dituliskan lagi.

Contoh :
a. Keraf, Gorys. 1989. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia.
b. Pusat Kurikulum. Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA. Jakarta.

Urutan Penulisan Sumber atau Daftar Pustaka
Nama Pengarang. Tahun Terbit. Judul Buku. Nama Kota : Nama Penerbit.Penjelasan.

1. Penulisan daftar pustaka dimulai dari batas tepi kiri hinga batas tepi kanan. Apabila       
    dalam satu baris belum selesai, maka dianjurkan baris dibawahnya dengan cara
    menjorok ke tengah ke dalam lebih kurang 5 – 7 spasi (seperti penulisan alinea baru).
2. Penulisan daftar pustaka tidak boleh diawali dengan penomeran.
3. Penulisan daftar pustaka harus secara alfabetis berdasarkan nama pengarangnya.
4. Tanda baca yang dipakai adalah tanda titik, tanda koma, dan tanda titik dua.
     a. Tanda titik (.) dipakai setelah nama pengarang, tahun terbit, judul buku, nama
          penerbit.
     b. Tanda koma (,) dipakai pada penulisan nama pengarang yang lebih dari satu kata.
     c. Tanda titik dua ( dipakai diantara nama kota dan nama penerbit.

Contoh penulisan :
DAFTAR PUSTAKA
Firman, Harry dan Liliasari. 1997. Kimia I untuk Sekolah Menengah Umum Kelas I.  
       Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Foster, Bab. 2000. Terpadu : Fisika SMU Jilid 2 A untuk kelas 2 Tengah Tahun Pertama.  
       Jakarta : Erlangga.

Noormandiri, B.K. dan Endar Sucipto. 2000. Buku Pelajaran Matematika untuk SMA Jilid
       3 Kelas 3. Jakarta : Erlangga.

http://babeheko.blogspot.com/2010/08/daftar-pustaka-atau-bibiliografi.html

09.46 | Posted in | Read More »

GURINDAM


Gurindam adalah termasuk sastra lama. Sastra lama mendapat pengaruh dari sastra Melayu atau India. Oleh sebab itu bahasa yang digunakan dalam gurindam terpengaruh oleh bahasa Melayu atau India. Gurindam ditulis dalam bentuk pasal-pasal. Setiap pasal terdiri dari dua bait dan setiap baitnya terdiri dari dua baris. Dua baris dalam satu bait gurindam umumnya dipahami sebagai satu kalimat yang sempurna. Kalimat itu terdiri atas dua anak klausa ( sering disebut induk dan anak kalimat). Jumlah suku kata tiap baris 8 hingga 14 suku kata. Baris pertama menunjukan sebab ( persyaratan ), sedangkan baris kedua merupakan akibatnya ( konsekuensi ). Isi gurindam berupa nasehat.

Berdasarkan bentuk / isi gurindam,ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
a.  Tiap-tiap suku ( bait ) terdiri atas dua baris
b.  Banyaknya suku kata pada tiap-tiap baris tidak tetap, ( biasanya 10-12
     suku kata )
c.  Sajaknya a-a. Gurindam yang baik bersajak penuh,tetapi ada juga yang 
     bersajak paruh
d.  Baris kedua adalah akibat (konsekuensi) atau balasan yang tersebut pada 
     baris pertama
e.  Gurindam berisi nasihat

Contoh:
GURINDAM DUABELAS
 
Pasal 1
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tengah-Nya tiada ia menyalah

Pasal 2
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Bagai rumah tidak betiang

Pasal 3
Apabila terpelihara kuping
Kabar yang jahat tiada damping

Pasal 4
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiada hartanya boleh berkat

Pasal 5
Jika hendak mengenal orang yang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Pasal 6
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang setiawan

Pasal 7
Apabila anak tidak dilatih
Ajika besar Bapa’nya letih

Pasal 8
Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban sendiri hendaknya sangka

Pasal 9
Kebanyakan orang muda-muda
Di situlah tempat syetan menggoda

Pasal 10
Dengan Ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Pasal 11
Hendaklah berjasa
Kepada yang berbangsa

Pasal 12
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

http://babeheko.blogspot.com/2010/08/gurindam.html

09.36 | Posted in | Read More »

Naskah dan Lembar Jawaban UN Kurang




Siswa SMA Negeri 11 Yogyakarta Faris Fadhli Domily mengerjakan soal ujian nasional di atas tempat tidur di Rumah Sakit Hidayatullah, Yogyakarta, kemarin. Dia dirawat di rumah sakit karena menderita kanker tulang.

JAKARTA– Sejumlah hambatan mewarnai hari pertama ujian nasional (UN) kemarin. Hambatan itu antara lain kekurangan naskah soal dan lembar jawaban.

Kekurangan lembar jawaban komputer (LJK) di antaranya terjadi di SMKN 1 Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Lembar jawaban kurang dua amplop atau 40 lembar jawaban. Untuk menutup kekurangan tersebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) terpaksa mengambil lembar jawaban yang seharusnya dipergunakan untuk hari kedua ujian (hari ini).

”Namun permasalahan itu tidak sampai mengganggu pelaksanaan UN,” ungkap Kasi Kurikulum Disdikpora KBB Imam Santoso kemarin. Persoalan yang sama juga terjadi di Sumatera Utara (Sumut). Ketua Penyelenggara UN Sumut Ilyas Sitorus menyatakan, ada beberapa daerah yang diinformasikan kekurangan lembar jawaban di antaranya di Nias Selatan, Tapanuli Utara, dan Medan.Di Nias Selatan,lembar jawaban kurang karena saat didistribusikan lembar jawaban tercebur di perairan Pulau Telo. Tidak hanya lembar jawaban, dari 33 kabupaten/kota, terdapat juga dua kabupaten/kota yang mengalami kekurangan naskah soal UN. Hal itu terjadi karena ketidakpahaman panitia UN di sekolah terkait kode yang terdapat pada masing-masing amplop soal UN.

“Dua daerah itu adalah Langkat dan Labuhan Batu,” ujar Koordinator Pengawas UN Perguruan Tinggi Selamet Triyono saat meninjau pelaksanaan UN di SMA Negeri 7 Medan kemarin. Menurut dia, kekurangan naskah soal UN itu karena tertukarnya amplop naskah soal UN dari satu kelas ke kelas yang lain. Padahal, jumlah peserta di tiap kelas berbeda. Dari Jember, Jawa Timur, malam sebelum berlangsung UN, sebagian besar siswa telah menerima kunci jawaban yang beredar lewat pesan singkat (SMS).Kunci jawaban itu bahkan untuk dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan Biologi.

Namun,SMS itu dipastikan menyesatkan. UN hari pertama jenjang SMA/MA mengujikan dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan Biologi untuk Program IPA, Sosiologi (IPS), Sastra Indonesia (Bahasa), serta Fikih (Keagamaan). Sementara pada jenjang SMK/SMALB mengujikan satu mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia.Adapun jumlah peserta UN jenjang SMA/MA/ SMK sebanyak 2.442.599 orang terdiri atas 1.196.136 peserta SMA,287.931 (MA),dan 958.532 (SMK). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional Mansyur Ramly mengakui ada beberapa hambatan dalam pelaksanaan UN hari pertama, misalnya ada aduan lembar jawaban beredar di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. ”Kami sudah konfirmasi ke panitia,dinyatakan tidak ada lembar jawaban beredar. Tetapi,kami masih mencari second opinion karena belum ada bukti,” katanya.

Menurut dia, jika terbukti terjadi kebocoran di suatu sekolah, UN di sekolah itu akan dibatalkan. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh meminta ujian nasional (UN) tidak dijadikan alat politik pihak tertentu. Mendiknas juga melarang langkah pemerintah daerah yang ingin mendapatkan kelulusan 100%,tapi tidak mengindahkan rambu kejujuran.“ Prinsip-prinsip dasar ujian tidak boleh ditabrak,”katanya seusai mengunjungi UN di SLB Pembina Lebak Bulus, Jakarta,kemarin. lia anggia/adi hartantyo/ pjuliatmoko/ neneng zubaidah 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/393765/

09.25 | Posted in | Read More »

Hah, 3 Soal UN Bahasa Indonesia Hilang

 
BANJARBARU, KOMPAS.com — Pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA/sederajat hari pertama di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, diwarnai hilangnya tiga soal Bahasa Indonesia akibat lembaran soal ganda.
Lembaran soal ganda ditemukan di salah satu ruangan ujian SMAN 2 Banjarbaru saat pelaksanaan ujian, Senin (18/4/2011), di mana soal program studi Bahasa Indonesia halaman 5 dan 6 terdapat kesamaan materi soal dalam satu lembaran.
"Lembaran soal halaman 5 dan 6 sama dan soal yang tertulis hanya nomor 6 dan 7, sedangkan soal nomor 8 hingga 10 tidak ada karena soalnya loncat ke nomor 11," ujar Ketua Panitia Ujian SMAN 2 Banjarbaru, Saryono.

Temuan soal ganda hingga membuat tiga soal hilang pada paket soal dengan nomor seri 27 itu langsung ditindaklanjuti berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.
Arahan lisan yang diperoleh panitia ujian setempat dari Dinas Pendidikan provinsi, peserta ujian nasional tetap melanjutkan menjawab soal ujian yang jumlah keseluruhan sebanyak 50 soal, kecuali tiga soal yang hilang tersebut.

"Kemungkinan tiga soal yang hilang itu tidak diperhitungkan atau dijadikan bonus, tetapi kebijakan itu merupakan wewenang dinas pendidikan provinsi sehingga kami hanya melaksanakan apa yang diarahkan," ungkapnya.
Kepala SMAN 2, Khairil Anwar, mengatakan, lembaran soal ganda hingga menghilangkan tiga nomor soal itu diharapkan menjadi bonus bagi peserta ujian karena kesalahan terjadi akibat proses pencetakan.
"Harapan kami, ketiga soal yang hilang itu dijadikan bonus karena kesalahan bukan pada peserta, tetapi terjadi saat proses pencetakan soal sehingga kami kurang setuju jika soalnya tidak diperhitungkan," ungkapnya.

Koordinator pengawas ujian nasional independen, Ahmad Yusran, ditemui di sela pantauan di SMAN 2 Banjarbaru mengatakan, temuan lembaran soal ganda yang membuat tiga soal hilang itu kemungkinan akibat kesalahan pada master soal.
"Kami melihat, kemungkinan kesalahan pada master soal yang kurang lengkap sehingga begitu soal dicetak, hasilnya ganda dan tiga soal hilang," ujar koordinator tim B dari Unlam Banjarmasin itu.
Dia menambahkan, pihaknya juga mendapat laporan serupa di Kabupaten Banjar, tetapi temuan itu tidak mengganggu proses ujian karena langsung disikapi panitia dengan memperbolehkan peserta menjawab soal selanjutnya.

"Meskipun tidak mengganggu proses ujian, laporan dan temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi sehingga ke depan pelaksanaan ujian semakin baik," katanya.

09.15 | Posted in | Read More »